Scientists Muslim

Para Penemu Islam

Sekarang ini qita hanya mengetahui bahwa ilmuan besar dan para penemu bukanlah kaum muslim. Sebenarnya para ilmuan penemu berbagai pengetahuan baru bukan hanya kaum non muslim, ada banyak penemu Islam yang lebih dahulu menemukan ilmu-ilmu baru tetapi karena tidak dipublikasikan maka mereka tidak tercatat dalam sejarah. Berikut adalah sedikit cerita tentang mereka yang banyak ditulis berbagai buku, majalah atau koran

Para Perempuan Cendikia

Sumber : Khazanah-Republika
Oleh : Dyah Ratna Meta N
Panggung peradaban Islam tidak hanya didominasi kaum laki-laki, kaum perempuan muslim pun ikut memberikan kontribusi. Mereka menunjukkan kecemerlangan pemikirannya dalam berbagai bidang, diantaranya dalam bidang agama, bangunan peradaban Islam dan ilmu pengetahuan. Salim T S Al Hassani, profesor emiritus di University Manchester, Inggris dalam tulisannya ‘ Women’s Contribution to Classical Islamic Civilisation : Science, Medicine and Politics ‘, menyatakan, selain dalam bidang agama mereka juga berkiprah di bidang ilmu pengetahuan. Sejumlah perempuan memiliki kemampuan dalam bidang medis.
Kemunculan mereka terkadang dipicu oleh suatu peristiwa peperangan yang tak terelakkan. Diantaranya adalah Rufayda Al Aslamiyyah yang mengawali karirnya merawat para tentara terluka. Ada pula nama-nama lainnya, yang menguasai matematika.

Rufadya Al Aslamiyyah
Wanita ini sering dipanggil Rufadya binti Sa’ad, ia dianggap sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam yang hidup pada zaman Nabi Muhammad. Dalam perang Badar pada tahun 624 H, ia bertugas merawat mereka yang terluka dan mengurus korban yang meninggal dunia.
Rufadya belajar pengetahuan medis dari ayahnya-Saad Al Aslamy yang juga seorang dokter. Dalam praktiknya, ia sering menjalankan keahliannya di rumah sakit lapangan berbentuk sebuah tenda. Selain kepadaian dalam bidang medis, Rufadya dikenal sebagai sosok yang empatik. Tak hanya itu Rufadya merupakan seorang organisatoris yang baik pula, ia aktif mengajarkan keahliannya kepada perempuan lainnya dan menjadi seorang pekerja sosial. Ia juga membantu memecahkan masalah sosial yang terkait dengan penyakit, membantu merawat anak yatim, cacat dan miskin.

Shifa binti Abdullah
Wanita lainnya adalah Al Shifa binti Abdullah Al Qurashiyah Al ‘Adawiyah, tetapi nama lain yang lekat pada dirinya adalah Laila. Kepiawaiannya dalam bidang medis ditopang oleh kemampuannya dalam membaca, sebab pada saat itu banyak orang yang buta huruf. Layaknya Rufadya, Al Shifa juga tidak pelit dengan ilmu yang dimilikinya dan senantiasanya menebar ilmu yang dikuasainya. Misalnya pengobatan terhadap gigitan semut, kemudian diminta untuk diajarkan kepada perempuan lainnya. Al Shifa pun multitalenta. Selain bidang medis, ia pun sangat terampil dalam administrasi publik dan dikenal dengan kebijaksanaannya.

Nusayba binti Harith
Nusayba binti Harith Al Anshari hadir sebagai sosok lain, ia juga merawat para prajurit terluka dan seorang tabib khitan.

Sutayta Al Mahamli
Wanita ini adalah seorang ahli matematika, pakar matematika ini hidup pada paruh kedua abad ke-10 yang berasal dari keluarga berpendidikan tinggi di Baghdad, Irak. Ayahnya, Abu Abdallah Al Hussein adalah seorang hakim yang juga penulis sejumlah buku. Sang ayah tidak memandang sebelah mata Sutayta yang berjenis kelamin perempuan, ia mengajakan ilmu pengetahuan kepada anaknya, bahkan mendatangkan sejumlah guru. Banyak hal yang diajarkan namun sutayta terpikat pada matematika. Sejumlah sejarawan, Ibnu Al Jawzi, Ibnu Al Khatib Baghdadi dan Ibnu Katsir memuji kemampuan Satayta dalam matematika. Satayta sangat menguasai hisab/aritmatika dan perhitungan waris.
Dalam aljabar, ia berhasil menemukan sebuah persamaan yang pada masa selanjutnya sering dikutip oleh pakar metematika lainnya. Bidang ilmu lainnya yang juga dikuasainya adalah Sastra Arab, Ilmu Hadits dan Hukum. Setelah lama memberikan kontibusinya dalam peradaban Islam, akhirnya Allah SWT memanggilnya. Ia menghebuskan napas terakhirnya pada tahun 987 Masehi.

Labana dari Kordoba
Pada masa pemerintahan Islam, Kordoba menjadi salah satu pusat peradaban, bahkan menjadi salah satu lumbung orang-orang yang berotak cerdas. Salah satunya adalah perempuan yang bernama Labana. Labana memilih matematika menjadi bidang kajian yang dikuasainya. Labana dikenal dengan kemampuannya menyelesaikan beragam masalah matematika yang sangat pelik, baik aritmatika, geometri, maupun aljabar. Melalui kecerdasannya ia menuai buah manis, ia diangkat menjadi pegawai pemerintah.
Labana menjadi sekertaris Khalifah Al Hakam II dari Dinasti Bani Ummayah. Jatuhnya jabatan sekertaris ke tangan Labana menunjukkan Khalifah tidak mempertimbangkan jenis kelamin namun mempertimbangan kepandaian dan kemampuan yang dimiliki Labana. Pada masa itu, sejumlah perempuan bernasib seperti Labana, para perempuan yang menguasai suatu bidang akan mendapatkan penghargaan dari pemerintah dan jika mereka bersedia akan mendapatkan posisi di pemerintahan.

Perempuan Penopang Peradaban
Ada banyak peranan perempuan, selain terjun langsung mempelajari ilmu pengetahuan adapula diantara mereka yang membuka jalan bagi perkembangan tradisi keilmuan.

Fatima Al Fehri
Ia memainkan peranan penting dalam pengembangan peradaban dan budaya. Fatima ikut bermigrasi dengan ayahnya dari kairouan (Tunisia) ke Fez. Ia tumbuh dalam sebuah tradisi keilmuan yang sangat kental, termasuk dalam mempelajari hadits da fiqih.
Pada masa berikutnya ia mendapatkan warisan harta yang berlimpah dari ayahnya. Tak ada yang sia-sia dari uang warisan itu, Fatimah memanfaatkannya untuk membangun sebuah masjid bagi komunitasnya yaitu Masjid Qarawiyin. Masjid yang dibangun pada 859 M dan diyakini sebagai yang tertua di dunia digunakan pula sebagai universitas. Mahasiswa dari seantero dunia banyak berdatangan ke sana untuk menimba ilmu tentang astronomi, bahasa dan sains. Melalui universitas tersebut, angka Arab kian dikenal dan banyak digunakan di Eropa. Fatima telah melakukan langkah penting memajukan peradaban dan pendidikan.

Dhayfa Khatun
Wanita lainnya adalah Dhayfa Khatun, ia merupakan istri penguasa Aleppo, Suriah, Al Zahir Ghazi. Ayahnya adalah Raja Al Adel, saudara laki-lakinya adalah Salahuddin Al Ayyubi. Dengan kekuasannya dan kekayaannya, ia mewujud menjadi seorang penderma. Sebuah yayasan ia bentuk untuk memberikan bantuan kepada para fakir miskin, juga memberikan dukungan dana bagi para scientist.
Untuk memajukan pendidikan di wilayahnya, ia mendirikan dua lembaga pendidikan. Lembaga pertama Al Firdaous yaitu sekolah yang khusus didirikan untuk kajian studi Islam dan hukum Islam. Al Firdaous memiliki tujuh unit bangunan, termasuk aula, tempat tinggal para siswa dan sebuah masjid. Lembaga kedua adalah Khankan yang digunakan untuk studi syariah dan bidang lainnya.

Hurrem Sultan
Wanita ini lahir pada 1500 M, merupakan istri penguasa Turki Usmani, Suleyman Agung. Selama hidupnya, ia fokus pada kegiatan sosial dan pendiri sejumlah lembaga termasuk sebuah kompleks masjid di Istambul dan kompleks Haseki Kulliye.
Kompleks Kulliye ini terdiri atas sebuah bangunan masjid, madrasah, sekolah dan dapur umum. Ia pun membangun dua sekolah, sebuah rumah sakit khusus perempuan dan cifte hamam yaitu pemandian yang memiliki bagian untuk perempuan dan laki-laki. Di Makkah, ia membangun empat sekolah sedangkan di Yerusalem dibangun satu sekolah. Hurrem Sultan meninggal dunia pada April 1558 dan dimakamkan di pemakaman Masjid Suleymaniye.

MARI KITA MENGENAL ILMUWAN MUSLIM

Sumber : Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angka Nol (Penerbit – Republika)

  • Muhammad Bin Musa Al Khawarizmi : Matematikawan besar, penemu angka nol.

Dialah pengembang ilmu geometrik dengan angka-angka untuk persamaan kuadrat, juga menemukan angka nol. Sayang, banyak kaum terpelajar di Negara berpenduduk mayoritas Islam tidak mengenalnya, di sekolah justru mengenalkan matematika dan ilmu hitung termasuk aljabar melalui ilmu pengetahuan Barat.

Al Khawarizmi merupakan intelektual muslim yang banyak menyumbangkan karyanya dalam bidang matematika, geografi, musik dan sejarah. Ia lahir di Khawarizmi (Khiva) di selatan Amu Darya pada tahun 780, kemudian bermigrasi ke Irak dan diperkirakan wafat 847. Karya Al Kwarizmi dalam matematika dihasilkan melalui karya berjudul Hisab Al Jabar Wal Muqabla dan Kitabul Jama-wat-tafriq.

Kedua kitab tersebut banyak menguraikan persamaan linier dan kuadrat, kalkulasi integrasi dan persamaan, tanda-tanda negative yang belum pernah dikenal bangsa Arab disertai dengan penjelasan dan enam contoh, yang kemudian dikenal dalam pengetahuan Eropa. Ahli ilmu aljabar Leonardo Fibonacci dari Pisa pun mengaku berhutang pada Khawarizmi.

Khusus dalam Kitabul  Jama-wat-Tafriq yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin Frattati d’Arithmetica, Al Khawarizmi menerangkan dalam praktik sehari-hari seluk-beluk kegunaan angka, termasuk angka nol. Sumbangan Al Khawarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangent telah membantu para ahli matematika Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini.

Selain matematika, Al Khawarizmi dikenal pula sebagai astronom. Di bawah pengawasan Khalifah Ma’mun, sebuah tim astronom yang dipimpin Al Khawarizmi berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Hasilnya 56,75 Mil Arab sebagai panjang derajat meridian. Menurut CA Nallino, ukuran ini hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran garis tengah bumi yang sebenarnya. Dengan demikian, garis tengah bumi dibuat menjadi 6500 mil dan kelilingnya 20400 mil, adalah sebuah perhitungan yang luar biasa yang bisa dilakukan pada saat itu. Dengan kepandaiannya pula, Al Khawarizmi menyusun sebuah buku tentang perhitungan waktu berdasarkan bayang-bayang matahari.

Masih berkaitan dengan masalah perhitungan, ternyata Al Khawarizmi juga seorang ahli Bumi. Bukunya Kitab Surat Al-Ard menjadi dasar ilmu bumi Arab. Naskah itu hingga kini masih tersimpan di Strassburg, Jerman. Oleh Abdul Fida, seorang ahli ilmu bumi terkenal menyebutkan buku itu sebagai buku yang menggambarkan bagian-bagian bumi yang dihuni manusia karena dihiasi secara lengkap dengan peta beberapa bagian dunia.

  • Al Khindi : merangkum berbagai pengetahuan

Ia dikenal sangat luas wawasannya. Dari filsafat, eksakta hingga kebudayaan dikuasainya. Seorang ahli/ilmuwan ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi, geografi, ahli filsafat Arab dan Yunani kuno.

Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak Al Kindi, lebih popular dengan nama Al-Kindi. Dunia barat menyebutnya Al-Kindus. Dilahirkan pada tahun 809M di Kufad (kini Arab Saudi), ayahnya adalah seorang gubernur Kufah di masa khalifah al-Mahdi (775-785M) dan Ar Rasyid. Ia lahir di tengah keluarga kaya akan informasi kebudayaan dan berderajat tinggi serta terhormat di mata masyarakat. Sejak kecil ia telah menunjukkan kecakapannya dan minatnya yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Kota Basra saat itu merupakan tempat persemaian gerakan intelektual dan pusat ilmu pengetahuan yang besar, lalu ke Bagdad dan menyelesaikan pendidikannya di kota Seribu Satu Malam ini.

Al Khindi hidup selama masa pemerintahan Daulah Abasiyah, Al Amin, Al Ma’mun, Al Mu’tashim, Al Watiq, dan Al Mutawakkil. Dengan khalifah itu, ia menjalin hubungan erat, kelak mengantarkan dirinya mendapat dukungan yang besar bagi pengembangan pengetahuan. Al Kindi meninggal pada tahun 252H/866M, suatu kematian yang sunyi. Selama abad ke-9 M, Kindi termasuk salah seorang yang gemilang namanya dalam dunia ilmu kimia dan ilmu fisika. Al Kindi memandang bahwa alam semesta terdiri dari sfera-sfera sepusat yang berputar sekeliling bumi yang tak bergerak. Selanjutnya, teori Al Kindi, “alam bumi dan air bergerak ke pusat bumi, sedang alam udara dan api justru menjauhinya”. Selain itu, tiap unsur mempunyai dua sifat, api bersifat  panas dan kering, udara bersifat panas dan lembab sedangkan air bersifat dingin dan lembab, sementara bumi bersifat dingin dan kering. Keempat unsur sederhana itu, bagi Al Kindi berada di luar jangkauan hukum kehancuran karena sifatnya yang tak dapat terbagi-bagi. Namun tidak seperti halnya Aristoteles dan Ptolemaios, ia yakin bahwa nasib terakhir unsur tersebut tetap berada di tangan Tuhan, yang akan membuatnya abadi selama ia menghendaki demikian.

Diantara karya Al Kindi, adalah :

1. Bidang Astronomi :

–          Risalah fi Masa’il Su’ila anha min Ahwal al-Kawakib (jawaban terhadap pernyataan-pernyataan tentang keadaan planet-planet).

–          Risalah fi Jawab Masa’il Thabi’iyyah fi Kayfiyyat Nujumiyyah (pemecahan soal-soal fisis tentang sifat-sifat perbintangan).

–          Risalah fi Anna Ru’yat Al Hilal la Tudhbathu bi Al-Haqiqah wa innama Al Qawl fha bi at-Taqrib (bahwa pengamatan astronomis Bulan Baru tidak dapat ditentukan dengan ketetapan mutlak).

–          Risalah fi Mathrah asy-Syu’aa (tentang proyeksi sinar).

–          Risalah fi Faahlayn (tentang dua musim- musim panas dan musim dingin)

–          Fi asy-Syu’a’at (tentang sinar bintang)

2. Bidang Meteorologi :

–          Risalah fi’ illat Kawnu adh-Dhabab (tentang sebab asal mula kabut).

–          Risalah fi Atsar alladzi Yazhharu fi al-Jaww wa Yasamma Kawkaban (tentang tanda yang tampak di langit dan disebut sebuah planet)

–          Risalah fi ‘illat Ikhtilaf Anwa’us Sanah (tentang sebab perbedaan dalam tahun-tahun)

–          Risalah fi ‘illat allati Iaba Yabrudu ‘ala al-Jaww wa Yaskhunu maqaruba min al-Ardh (tentang alasan mengapa bagian atas atmosfir tetap dingin sedangkan bagian lebih dekat dengan bumi tetap panas).

3. Ilmu pengobatan :

–          Risalah fi ‘illat Nafts ad-Damm, tentang hemoptesis (batuk darah dari saluran pernafasan).

–          Risalah fi Asyfiyat as-Sumum (tentang obat penawar racun).

–          Risalah

–          Risalah fi‘illat al – Judzam wa Asyfiyatuhu ( bercerita tentang penyakit lepra dan pengobatannya ).

–          Risalah fi ‘Adhat al-Kalib (tentang rabies)

–          Risalah fi ‘illat Baharin al-Amradh al-Haddah (sebab igauan dalam penyakit-penyakit akut).

4. Dibidang Geometri :

–          Risalah fi ‘ Amal Syakl al-Mutawassithayn (konstruksi bentuk garis-garis tengah).

–          Risalah fi Taqrib Watar ad-Da’irah (perhitungan yang mendekati dari daftar tali busur-tali busur sebuah lingkaran).

–          Risalah fi Taqrib Qawl Arsyamidas fi Qadar Quthr ad-Da’irah min Muhithiha (perhitungan teori Archimedes yang mendekati mengenai besarnya suatu diameter, yang diketahui dari kelilingnya).

5. Dibidang Ilmu Hitung :

–          Risalah fi Madkhal ila al-Arimathiqi (pengantar ilmu hitung).

–          Risalah fi al-Kammiyat al-Mudhafah (tentang jumlah relatif).

–          Kitab fi al-Khalaq an-Nusbiyah wa az-Zamaniyah (mengukur perbandingan-    perbandingan dan masa).

–          Risalah fi at-Tawhid min Jihat al-A’dad (ke-esaan dari segi angka-angka).

6. Dibidang Logika :

–          Risalatuhu fi Madkha al-Mantiq bi Istifa al-Qawl fihi (pengantar lengkap logika).

–          Risalah fi al-Ibanah ‘an Qawl Bathlimayus fi al-Awwal Kitabihi al-Majithi ’an Qawl Aristhathalis Ji Analutthiqa (penjelasan ulasan Ptolemy pada permulaan almagest, mengenai apa yang dikatakan Aristoteles dalam analitiknya).

–          Ikhtisar Kitab Isaghuji li Farfuris (ringkasan Eisagoge).

  • Al-Battani : Penemu barbagai teori Matematika

Kalangan matematika tak asing dengan istilah Sinus, Kosinus, Tangen dan Kotangen. Salah satu tokoh yang mengenalkan dan mengembangkannya adalah Al Battani yang dikalangan ilmuan Barat dikenal dengan sebutan Albategni atau Albategnius. Al Bathani dikenal menggunakan prinsip-prinsip trigonometri tersebut saat melakukan observasi astronomi.

Pengertian Sinus dan Kosinus diperkenalkan untuk menggantikan istilah chord atau tali busur yang biasa digunakan dalam perhitungan astronomi dan trigonometri masa itu. Dalam bahasa Arab, istilah Sinus yang disebut jaib yang berarti teluk atau garis bengkok.

Sedangkan kotangen dalam bahasa Arab adalah bayangan lurus atau garis istiwa’ (khatulistiwa) dari Gnomon. Gnomon adalah suatu alat semacam papan yang digunakan untuk mengukur cahaya matahari setelah dibagi menjadi dua belas bagian. Teori tagen dan kotangen inilah yang kemudian pilar dasar bagi  ilmu trigonomerti. Alat Gnomon yang digunakan Al Battani mengilhami para ilmuan untuk menciptakan jam yang ada sekarang. Al Battani juga berhasil membuat daftar tabel sinus, tangen dan kotangen dari 0o – 90o secara cermat. Tabel ini dengan tepat ia terapkan dalam operasi-operasi aljabar dan trigonometri untuk segitiga sferis.

Dibidang astronomi Al Battani banyak memperkenalkan terminologi astronomi seperti Azimut, Zenit dan Nadir yang bersumber dari bahasa Arab. Al Battani juga berhasil menemukan letak kesalahan Claudius Ptolemaeus tentang gerak, posisi dan apogee matahari. Perhitungan Ptolemaeus mencatat 17o, sementara Al Battani mencatat garis bujur apogee matahari telah bertambah 16 derajat 40 menit. Dengan menghitung panjang tahun menjadi 365 hari 5 jam 46 menit 24 detik, ketepatan hitungannya tersebut hanya berselisih 2 menit dibanding waktu sebenarnya. Buku-buku karya Al Battani juga banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk ke dalam bahasa Latin.

  • Jabir Ibnu Hayyan Al Kufi : Perintis kimia modern

Daerah aliran sungai Nil yang lumpurnya hitam oleh penduduk Mesir purbakala disebut ‘Khem’ atau ‘Khmi’ artinya tanah hitam. Ketika muslim Arab datang ke Mesir pada abad ke-7, mereka sangat tertarik dalam seni kimiawi yang ditemukannya. Mereka menambahkan awalan Arab ‘al’ maka terukurlah kata ‘al-Khemi’ yang artinya seni daerah aliran sungai Nil Mesir. Kelak, pada pertengahan abad ke-16 awalan ‘al’ terlepas sehingga alkemi menjadi kimia.

Logam sudah diekstraksi dari biji-bijiannya, pigmen alami dan zat pewarna sudah diproduksi dari bahan tumbuhan. Pada akhir abad ke-8 dan selama abad ke-9 ilmuwan muslim mulai tertarik pada perkembangan alkemi. Adalah kota Harran di Syria yang menyaksikan kebangkitan kembali kehidupan intelektual pada awal perkembangan peradaban Islam. Ketika itu kota Harran sudah termasyhur sebagai pusat perkembangan alkemi, menjadi pusat pertemuan dan peleburan alam pikiran naturalistik Persia, Syria  dan Yunani. Kehidupan intelektual di ketiga negara tersebut menimbulkan lingkungan yang subur bagi perkembangan alkemi. Dalam kimia seperti halnya pada bidang lain, ilmuan Muslim terlebih dulu menterjemahkan buku -buku dari zaman sebelumnya. Para ilmuwan muslim yang pertama kali memperkenalkan metode eksperimentasi dalam analisis keilmiahan, mereka yang pertama menguji teori-teori dengan teknik eksperimentasi.

Dalam perwujudan proses ini ditemukan banyak produk baru, yang namanya dalam bahasa-bahasa Eropa masih berbau bahasa Arab : alambic, al-alambic, alcohol, al-kohol, alkaline, al-qalawi, arsenic, al-zarnikh dan sebagainya. Di masa itulah hidup Jabir ibnu Hayyan al-Kufi (738-813) yang berasal dari Kufa di Iraq dan dikenal di Barat sebagai Geber. Dialah yang pertama menjadikan alkemi dari seni menjadi sains, yaitu dari taraf ‘aurifikasi’ (usaha memproduksi emas atau perak dari logam lain) menjadi kategori eksperimentasi berdasarkan kuantitatif dengan peralatan yang dibuatnya sendiri. Hingga kini aurifikasi masih ada yang dipakai dalam laboratorium modern.

Jabir ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (‘fixation’), amalgamasi dan oksidasi-reduksi. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Seluruh karya Jabir ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang bisa diselamatkan sampai pada zaman Renaisans. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari berbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Diantara bukunya yang terkenal adalah Al-Hikmah al-Falsafiyah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul ‘Summa Perfectionis’. Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia menyatakan : “ Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal. Keduanya mempertahankan karakteristik alaminya dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama.

Apa yang diuraikan oleh Jabir (776) lebih dari 1200 tahun lampau adalah apa yang dinamakan oleh kimia kontemporer sebagai reaksi kombinasi (dua zat bereksi membentuk produk tunggal). Penjelasan kimia kontemporer tidak jauh berbeda dengan yang diberikan oleh Jabir. Tetapi dunia sains Barat tidak memandang Jabir sebagai perintis kimia modern. Kehormatan itu malah diberikan kepada Antoine Lavoisier (1743-1794) sebagai pendiri kimia modern. Padahal jauh sebelum Lavoisier, alkemis dan segaligus astronom Andalusia dari Majriti (sekarang Madrid), Abu Qasem Maslamah al-Majriti di dalam bukunya Rutbah al-Hakim (buku alkemi pertama yang ditulis di Spanyol) telah mencatat operasi kimiawi yang menarik, termasuk pembuatan merkuri oksida yang warnanya merah dengan pembakar merkuri memakai api lembut pada dapur yang khusus “tanpa ada perubahan berat (kekekalan massa)”. Lavoisier sesungguhnya hanya mengulangi percobaan Maslamah al-Majriti pada tahun 1772, namun ia memperoleh publisitas sebagai penemu hukum konservase masih dalam ilmu kimia.

Teori keseimbangan Jabir al-Hayyan merupakan terobosan baru dalam prinsip dan praktek alkemi dari masa sebelumnya. Dengan ditemukannya proses pembuatan asam organik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Diantaranya adalah hasil penyulingan tawas, ammonia khlorida, potassium nitrat dan asam sulferik. Penguraian memanufaktut beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya yang berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan). Di dalam buku tersebut, ia menjelaskan bahwa soda dan potas sangat dibutuhkan untuk pembuatan gelas dan sabun. Notron dan abu tumbuh-tumbuhan adalah sumbernya. Notron adalah sodium karbonat, didapati dalam keadaan alamiah di Mesir dan di padang pasir bagian Barat, di Semenanjung Arabia. Variasi dari notron inilah yang kemudian di Eropa diberi symbol kimia Na untuk sodium.

Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya ditemukan dengan didapati peralatan kimia yang hingga kini masih mempesona dan di dalamnya terkulai sebatang emas yang cukup berat. Begitulah ketekunan Jabir dalam upayanya melakukan penelitian kimia serta menjelaskan unsur-unsur serta reaksi-reaksi yang ditimbulkannya. Walaupun, nama Jabir dalam upayanya melakukan penelitian kimia serta menjelakan unsur-unsur serta reaksi-reaksi yang ditimbulkannya. Walaupun, nama Jabir disembunyikan Barat tetapi jasa-jasanya sebagai pengembangan ilmu kimia tak dapat dielakkan.

  • Ibnu Al-Haitham : Jenius Pakar Fisika Optik

Sejarah mencatat salah satu peletak dasar ilmu fisika optik adalah sarjana Islam al-Haitham  atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen, Avennathan atau Avenetan. Ilmuwan besar yang punya nama lengkap Abu Ali al-Hasan ibnu al-Haitham al-Basri al-Misri ini lahir di Basrah-Irak pada 965M, mengecap pendidikan di Basrah dan Baghdad kemudian meneruskan pendidikannya di Mesir, ia pun mengunjungi Spanyol untuk melengkapi beberapa karya ilmiahnya. Ibnu Haitham atau Alhazen tidak hanya menguasai fisika, ilmu optik, namun juga filsafat, matematika dan obat-obatan (farmakologi). Tidak kurang 200 karya ilmiah mengenai berbagai bidang itu dihasilkan Ibnu Haitham sepanjang hidupnya.

Karya utamanya tentang optik naskah aslinya dalam bahasa Arab sudah hilang, namun terjemahannya dalam bahasa Latin masih ditemukan. Ibnu Haitham mengoreksi konsep Ptolemeus dan Euclides tentang penglihatan, menurut Ibnu Haitham retina pusat penglihatan dan benda bisa terlihat karena memantulkan sinar atau cahaya ke mata. Kesan yang ditimbulkan cahaya pada retina dibawa ke otak melalui saraf-saraf optik.  Kepandaian matematis Ibnu Haitham terbukti ketika ia dengan sangat akurat menghitung ketinggian atmosfer bumi yaitu 58,5 mil. Dalam karyanya Mizanul Hikmah, ibnu Haitham banyak menguraikan tentang masalah atmosfer ini, terutama berkait dengan hubungan ketinggian atmosfer dengan meningkatnya kepadatan udara. Secara eksperimental ia berhasil menguji berat benda meningkat dalam proporsinya pada kepadatan atmosfer yang bertambah.

Ia juga membicarakan  masalah yang berhubungan dengan pusat gaya tarik bumi. Jauh sebelum Newton membahas masalah grafitasi, Ibnu Haitham telah membahasnya dan menjadikannya pengetahuan tentang grafitasi itu untuk penyelidikan tentang keseimbangan dan alat-alat timbangan. Ibnu Haitham juga mengurai dengan jelas hubungan antara daya tarik bumi dengan pusat suspensi. Ibnu Haitham juga banyak melakukan eksperimen mengenai camera obscura atau metode kamar gelap, gerak rektilinear cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa dan beberapa fenomena optikal lainnya. Metode kamar gelap atau camera obscura dilakukan Ibnu Haitham saat gerhana bulan terjadi. Kala itu, ia mengintip citra matahari yang setengah bulat pada sebuah dinding yang berhadapan dengan sebuah lubang  kecil yang dibuat pada tirai penutup jendela.

Untuk semua eksperimen lensa, Ibnu Haitham membuat sendiri lensa dan cermin cekung melalui mesin bubut yang dimilikinya. Eksperimennya yang tergolong berhasil saat ia menemukan titik fokus sebagai tempat pembakaran terbaik. Saat itu, ia berhasil mengawinkan cermin-cermin bulat dan parabola. Semua sinar yang masuk dikonsentrasikan pada sebuah titik fokus sehingga menjadi titik bakar. Bukunya tentang optik, Kitab al-Manazir diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh F. Risner dan diterbitkan di Basle pada 1572 M, karya-karya optik lainnya sangat mempengaruhi ilmuwan abad pertengahan. Menurut Philip K Hitti tulisan-tulisannya mengenai berbagai persoalan optik membuka jalan bagi para peneliti optik barat dikemudian hari mengembangkan disiplin ilmu ini secara lebih luas. Semua karya ini diterjemahkan ke dalam  beberapa bahasa Eropa, termasuk Rusia dan Ibrani.

  • Al Biruni : Menundukkan Sains dengan Kearifan

Al Biruni adalah salah seorang cendikiawan dan saintis Muslim terkemuka pada masa kejayaan Islam. Kepakarannya di bidang  matematika, fisika, kedokteran, astronomi dan sejarah sangat luar biasa. Karangannya mencapai 180 buah. Namun hanya sekitar 40 buah yang dapat diketahui keberadaanya hingga sekarang. Sejarawan DJ Boilot menilai al-Biruni sebagai ilmuwan Muslim terbesar Abad Pertengahan yang paling orisinil dan mengangumkan.

Nama lengkapnya adalah Abu al-Rayhan Muhammad ibnu Ahmad al-Biruni, dilahirkan di Khwarizmi, Asia Tengah, 4 September 973 atau 3 Dzulhijjah 362 H dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan yang kokoh. Pada 998/388 ia merantau ke Jurjan, daerah sebelah tenggara di Laut Kaspia. Di sini ia pertama kali menulis kitab al-Atsarul Baqiyah ‘anil Qurunil Khaliyah (peninggalan bangsa-bangsa kuno). Dalam buku ini al-Biruni berbicara tentang upacara-upacara ritual, pesta dan festifal bangsa-bangsa kuno. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman (1878) oleh Edward C Sachau. Dialah orang yang berjasa memperkenalkan al-Biruni ke dunia Barat.

Pada tahun 1008M / 399H, ia kembali ke kampung halamannya. Namun pada 1017 M / 408 H tentara melakukan kudeta sehingga Khwarizmsyah (Sultan yang saat itu memerintah) tewas, dalam kondisi yang demikian kacau, Mahmud Ghazna dari Pakistan menguasai kota Khwarizmi. Melihat kecemerlangannya maka Mahmud Ghazna mengajak al-Biruni bekerja padanya. Al-Biruni selalu ikut dalam ekspedisi militer Mahmud diantaranya ke India. Kesempatan ini digunakan untuk mempelajari adat istiadat, agama dan kepercayaan India, ia bahkan mempelajari filsafat Hindu pada sarjana India. Penyelidikannya itu menghasilkan karya berjudul Tarikhul Hindi (sejarah India) pada tahun 1030 M / 421 H. Sanhcau pun menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Inggris pada 1888 M. Dalam buku ini al-Biruni juga menyimpulkan bahwa pada mulanya manusia memiliki kepercayaan monoteisme murni, penuh kebaikan dan menyembah Tuhan Yang  Maha Esa. Namun nafsu jahat telah membawa mereka pada perbedaan agama, filsafat dan politik sehingga mereka menyimpang dari monoteisme ini. Ia juga membahas tentang geografi India. Beberapa tahun kemudian, al-Biruni menulis buku tentang masalah geometri, aritmetika, astronomi dan astrologi berjudul Tafhim li Awa’il Sina’atut Tanjim. Di bidang astronomi, ia menulis al-Qanun al-Mas’udi fil Hai’ah wan Nujum. Buku ini juga memperoleh penghargaan di Barat dan menjadi bacaan standar di berbagai universitas Barat selama beberapa abad.

Sementara dalam bidang pertambangan ia menulis al-Jamahir fi Ma’rifaril Jawahir pada 1041. Sedangkan dibidang kedokteran al-Biruni menulis as-Saydala fit Thib. Buku ini bisa dikatakan ensiklopedi kedokteran lengkap yang merangkum informasi tentang kedokteran lengkap yang merangkum informasi tentang kedokteran dan pengobatan pada masanya. Selain itu, ia juga membuat kalender mekanik yang dapat menunjukkan posisi matahari dan bulan pada hari-hari tertentu. Al-Biruni juga menguasai berbagai bahasa secara aktif, seperti bahasa Arab, Turki, Sansekerta, Yahudi dan Suryani. Pada tahun 1050/442H al-Biruni meninggal dunia dalam usia 77 tahun (Masehi) atau 80 tahun dalam hitungan Hijriah.

Sebagai ilmuwan dan saintis Muslim, al-Biruni selalu meletakkan sains sebagai sarana untuk mengungkapkan rahasia alam. Dalam bukunya al-Jamahir, al-Biruni juga menegaskan “penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut kita menyimpulkan eksistensi Allah”. Dalam aktifitasnya ilmiahnya, al-Biruni mengukur keliling dan menetapkan garis lintang (latitude) dan bujur (langitude) dengan akurasi yang luar biasa.

Meskipun telah mengarang sejumlah karya monumental, ia tidak serta merta mengklaim dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling menguasai setiap persoalan keilmuwan . Ilmu menurut al-Biruni hanyalah kepunyaan Allah dan yang diberikan-Nya kepada manusia sedikit sekali. Manusia baru bisa menyingkap sebagian kecil saja dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Padangan al-Biruni ini berbeda sekali dengan pandangan saintis Barat modern yang melepaskan sains dari agama.

  • Ibnu Sina : Bapak kedokteran yang dihormati Barat

“ Kejeniusannya luar biasa, pemikirannya, terutama dibidang filsafat dan kedokteran mengilhami karya-karya pemikiran di Barat dan ‘membanjiri’ literature modern. Di kalangan Barat, ia dikenal sebagai Avecienna. Abu Ali Al-Hussain ibnu Abdullah ibnu Sina (lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Sina) lahir di Afshana, dekat kota Bukhara, Uzbekiztan pada tahun 981M. Di usia ke-10, Ibnu Sina sudah menguasai Al Qur’an dan ilmu-ilmu pengetahuan dasar lainnya, yang dipelajari Sina meliputi filsafat Yunani, kedokteran, ilmu eksakta maupun buku-buku Islam lainnya.

Kontribusi terbesar Sina dalam bidang kedokteran terutama bisa dilihat dari bukunya yang terkenal, Al-Qanun fi Al-Tibb. Kitab ini di Barat lebih dikenal sebagai The Canon of Medicine. Tidak ada satu rujukan pun dalam ilmu kedokteran yang tidak mengambil rujukan dari Sina.

Di usianya yang ke-17, Sina berhasil menyembuhkan Nuh Ibnu Mansur seorang raja di Bukhara. Dalam masa penyembuhan, raja Mansur berkeinginan memberi Sina hadiah tapi tabib muda itu hanya berhasrat untuk diijikan ‘melahap’ semua buku-buku di perpustakaan istana. Sina memulai pengembaraanya dari Jurjan, ini dilakukan setelah kematian ayahnya. Lalu, ia berpidah ke Rayy dan menuju Hamadan, di sini ia menulis buku fenomenalnya Al Qanun fi Al-Tibb dan di kota ini pula, ia menyebuhkan Raja Hamadan (Shams Al-Daulah) dari penyakit perut kronis. Dari Hamadan kemudian ia berpindah ke Isphanan (sekarang Iran), yang menjadi tempat untuk menyelesaikan risalah-risalah monumentalnya. Penerjemahan De Anima, Gundisalvus menulis bahwa De Anima yang sebagian besar isinya merupakan pengambilan besar-besaran doktrin-doktrin Sina. Demikian juga para filsuf dan ilmuwan abad pertengahan seperti Robert Grosseteste dan Roger Bacon yang menginternalisasikan sebagian besar pemikiran Ibnu Sina.

Untuk memahami teologi dan metafisika Aquinas, setiap orang pasti harus merujuk kepada pemahaman jasa pemikiran yang diterimanya dari Ibnu Sina. Kitab Qanun fi al-Tibb atau The Canons of Medicine karangan Sina telah menjadi ensiklopedi terlengkap dan terbesar dibidang kedokteran, yang memuat jutaan istilah, di dalamnya termuat risalah pengobatan perpaduan dari sumber-sumber pengobatan kuno dan tabib muslim. Selain berisi pengobatan-pengobatan dengan cara umum, kitab itu juga memuat nama obat-obatan (ada 760 macam), jenis-jenis penyakit yang menyerang seluruh tubuh mulai dari kepala sampai kaki, terutama bidang farmakope dan patologi.

Kitab Qanun sangat dikenal juga sebagai  kitab kedokteran paling otentik di dunia, sangat banyak memuat penemuan-penemuan Sina di bidang anatomi, yang masih dipakai hingga kini.  Sina pula yang pertama kali dapat mengenali asal  muasal  terjadinya penyakit menular seperti phtisis dan TBC yang disebarkan melalui air dan tanah serta kaitannya antara kesehatan dengan kondisi psikologis. Dia juga orang pertama yang dapat menjabarkan gangguan meningitis (radang otak) dan ilmuwan pertama yang mampu menjabarkan anatomi mata berikut perangkat system optiknya.  Di abad ke-12, Qanun (Canon) telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Crenmona. Kitab ini kemudian menjadi buku panduan utama dalam sekolah-sekolah kedokteran di Eropa. Bahkan di abad ke-16 buku tersebut telah dicetak kembali lebih dari 20 kali. Dari abad ke-12 sampai ke-17, kitab Qanun telah menjadi guru bagi ilmu kedokteran di Barat. Kitab Ibnu Sina lainnya, seperti Kitab Al-Shifa (buku penyembuhan) adalah ensiklopedi filsafat yang membahas banyak sekali lingkup pengetahuan dari filsafat sampai ilmu pengetahuan. Filosofinya berhasil mempersatukan tradisi Aristotelian, pengaruh neo-platonik dan teologi Islam. Selain Shifa, risalah filsafatnya yang cukup dikenal adalah Al-Najat dan Isharat. Dalam kedua risalahnya itu Sina memadukan dua kategori utama dalam filsafat, yaitu antara pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis. Kebesaran figur Ibnu Sina kini diabadikan menjadi nama sebuah auditorium besar pada fakultas kedokteran Universitas Paris-Perancis.

Ibnu Sina yang tidak pernah berdiam di suatu tempat, menjelajah ke berbagai negeri sambil mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan filsafat, akhirnya mengalami semacam kelelahan mental hebat. Pada saat itu banyak terjadi kerusuhan politik di negeri yang ia tinggali sehingga kesehatanya terganggu. Setelah kembali ke Hamadan, Sina meninggal dunia pada tahun 1037.

  • Ibnu Batutah : Penjelajah Dunia dari Rusia hingga Samudra Pasai.

Orang-orang Arab sejak lama dikenal sebagai penjelajah dunia. Bila Columbus dianggap penemu Dunia Baru atau Benua Amerika, maka anggapan itu perlu diperbarui karena para penjelajah Arab telah mendaratkan perahu-perahu mereka di Dunia Baru tersebut lima abad sebelum kehadiran Colombus. Catatan sejarah yang ada menunjukkan kapal-kapal mereka telah melintasi Selat Bering untuk mengelilingi pantai-pantai Amerika Utara. Salah satu tokoh penjelajah muslim yang namanya diukir dengan tinta emas adalah Ibnu Batutah. Bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Lawati al Tanji, Ibnu Batutah lahir di Tangiers, Maroko, Afrika Utara pada 24 Februari 1304 M. Dibesarkan dalam keluarga yang taat memelihara Islam, Ibnu Batutah giat mempelajari fiqih dari para ahli yang sebagian besar menduduki jabatan Kadi (hakim). Selain itu, ia juga mempelajari sastra dan syair Arab. Pada masa hidupnya, Bani Marrin tengah berkuasa di Maroko dan mangalami kejayaannya. Maroko dan Prancis hanya dipisahkan lautan sehingga pertempuran laut sering terjadi antara keduanya.

Menurut sejarawan George Sarton yang mengutip catatan Sir Henry Yules, Ibnu Batutah telah mengelana sejauh 75000 mil melalui daratan dan lautan. Jarak ini jauh lebih panjang dari yang dilakukan Marco Polo dan penjelajahan mana pun sebelum datangnya mesin uap. Seluruh cerita perjalanannya ia caritakan kembali dan ditulis oleh Ibnu Jauzi, juru tulis Sultan Maroko, Abu Enan. Karya itu diberi judul Tuhfah an-Nuzzarfi Ghara’ib al-Amsar wa Ajaib al-Asfar (persembahan seorang pengamat tantang kota-kota asing dan perjalanan yang mengagumkan) dan menjadi perhatian berbagai kalangan di Eropa sejak diterjemahkan keberbagai bahasa, seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Kepergian pertama Ibnu Batuta saat ia menunaikan ibadah haji pada usia kurang dari 21 tahun. Menurut catatan sejarah kepergian itu tepat pada 14 Juni 1325 M, diseberanginya Tunisia dan hampir seluruh perjalanannya ditempuh dengan berjalan kaki. Ia tiba di Alexandria pada 15 April 1326 dan mendapat bantuan dari Sultan Mesir berupa hadiah dan uang untuk bekal menuju Tanah Suci. Perjalanan ia lanjutkan ke Mekah melalui Kairo dan Aidhab, pelabuhan penting di Laut Merah dekat Aden. Mengetahui jalur perjalanan berikutnya penuh dengan penyamun, ia kembali ke Kairo dan melanjutkan ke Mekkah  melalui Gaza, Yerusalem, Aleppo dan Damaskus-Syria. Ia tiba di Mekah pada Oktober 1926. Selama di Mekkah Ibnu Batutah bertemu dengan jemaah dari berbagai negeri. Pertemuan inilah yang mendorong semangat Ibnu Batutah untuk mengenal langsung negeri-negeri asal para jamaah haji. Ia batalkan kepulangannya dan ia pun memulai pengembaraannya menjelajahi dunia. Ia mulai seberangi gurun pasir Arabia menuju Irak dan Iran, lalu ia kembali ke Damaskus dan melanjutkannya ke Mosul-India. Setelah itu, ia menunaikan ibadah haji yang kedua dan menetap di Mekkah selama 3 tahun (1328-1330).  Puas menetap di Mekkah, ia pun melanjutkan pengembaraan ke Aden dan berlayar ke Somalia, pantai-pantai Afrika Timur termasuk Zeila dan Mambasa. Kembali ke Aden lalu Oman, Hormuz di Teluk Persia dan Pulau Dahrain. Mampir sebentar ke Mekkah pada 1332 ibnu Batutah menyebrangi Laut Merah menyusuri Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syria dan tiba di Lhadhiqiya lalu menggunakan sebuah kapal Genoa berlayar ke Alaya di pantai selatan Asia Kecil.

Usai melakukan perjalanan laut, pada tahun 1332 Ibnu Batutah melanjutkan pengembaraanya lewat darat. Ia menjelajahi stepa-stepa di Rusia Selatan hingga ke istana Sultan Muhammad Uzbeg Khan yang ada di tepi sungai Wolga. Penjelajahan ia teruskan hingga Siberia.

Ibnu Batutah mengunjungi Kaisar Byzantium-Audronicas III dan mendapat perlakuan baik dari sang kaisar. Ia pun mendapat hadiah kuda, pelana dan paying. Perjalanan darat pun dilanjutkan menuju Persia Utara hingga Afghanistan dan beristirahat di Kabul. Pengembaraan berakhir ketika Ibnu Batuta mencapai India dan bertemu dengan Sultan Delhi-Muhammad bin Tuqluq. Di kesultanan ini Ibnu Batutah diangkat menjadi hakim oleh sang sultan dan tinggal di negeri ini selam 8 tahun. Atas perintah Sultan, Ibnu Batutah  menjadi duta besar kepada kekaisaran China. Dalam perjalanan menuju China yang dilakukan melalui laut inilah Ibnu Batutah sempat mampir ke beberapa negeri termasuk kesultanan Samudra Pasai di Sumatera. Khusus di Samudra Pasai, Ibnu Batutah dalam catatannya menulis sebagai negeri yang menghijau dan kota pelabuhannya sebagai kota besar yang indah. Kedatangannya disambut Amir (panglima) Daulasah. Kadi Syarif Amir Sayyir asy-Syirazi Tajuddin al Asbahani dan beberapa ahli fiqih atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Selama 15 hari  di Samudra Pasai, ia sempat mengunjungi pedalaman Sumatera yang masih dihuni masyarakat non muslim. Di sini ia menemukan beberapa perilaku yang mengerikan, bunuh diri masal yang dilakukan oleh budak ketika pimpinannya mati. Ibnu Batutah sempat kembali singgah di Samudara Pasai sekembalinya dari China.

Kunjungannya ke Kaisar China dicatat dengan kekagumannya atas kekuatan armada  besar yang dibangun kekaisaran tersebut. Ia pun beruntung mendapat kesempatan menikmati perahu pesiar milik Kaisar menuju Peking, ibukota kekaisaran. Kembali dari China, Ibnu Batutah mengunjungi India, Persia dan Damaskus. Ia pun kembali ke Mekkah menunaikan ibadah haji untuk keempat kalinya pada 1348M. Sekembalinya dari haji Ibnu Batutah menyusuri Yerusalem, Gaza, Kairo dan Tunis dengan perahu menuju Maroko lewat Dardinia dan tiba Fez ibukota Maroko pada 8 November 1349M. Sejak itu, ia menetap hingga akhir hayatnya pada 1377M. Praktis hingga ajal menjemput ia berkelana dan mengunjungi berbagai negeri, baik Islam maupun non-Islam selama 24 tahun.

  • Ibnu Khaldun : Peletak Dasar Ilmu Sosiologi Politik dan Filsafat.

“Ia memetakan masyarakat dengan interaksi sosial, potik, ekonomi dan geografi yang melingkupinya. Pendekatan ini dianggap menjadi terobosan yang signifikan”. Pemikiran dan teori-teori politiknya yang sangat maju telah mempengaruhi karya-karya para pemikir politik terkemuka sesudahnya, seperti Machiavelli dan Vico. Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732H / 27 Mei 1332 dengan nama Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Ibnu Khaldun. Moyangnya berasal dari Hadramaut-Yaman yang bermigrasi ke Sevilla-Andalusia (Spayol). Namun keluarganya harus pindah ketika Sevilla dikuasai oleh Kristen. Khaldun berasal dari keluarga intelektual, yang sedikit tertarik dengan persoalan politik. Pendidikannya dilalui di Tunisia dan Fez (Maroko) dengan mempelajari berbagai ilmu menghafal Al-Qur’an, mempelajari tata bahasa, hukum Islam (syariah), hadits, retorika, filologi dan puisi. Selain itu, ia mempelajari sastra Arab, filsafat, matematika dan astronomi. Khaldun sangat senang terlibat dengan politik. Karirnya dibidang  politik membawanya keluar masuk istana, baik sebagai pemenang maupun pecundang.

Usia mudanya dihabiskan sebagai pendamping. Pada umur 19 tahun, ia mulai mengabdi pada Ibnu Tafrakin, penguasa Tunisia. Ketika Abu Ziad, penguasa Constatine menyerang dan mengalahkan Tunisia, Khaldun melepaskan diri ke Aba lalu berpindah ke Aljazair dan menetap di Biskra. Karirnya menanjak saat ia membantu Sultan Abu Salem dalam menjatuhkan Al Mansur, musuh polotiknya. Ia diberi jabatan sekretaris selama lebih dari dua tahun, lalu ditugaskan sebagai kadi (hakim). Tak lama kemudian Sultan Abu Salem dijatuhkan, Ibnu Khaldun pun meninggalkan Fez dan pergi ke Andalusia.

Kemelut untuk kesekian kalinya membawa Ibnu Khaldun berpindah ke Mesir. Ia bahkan sempat mengajar di Al Azhar dan sekolah lainnya sampai kemudian diangkat menjadi hakim. Penguasa mesir Sultan Faraj menugaskannya untuk berunding dengan Timurlane, penguasa Mongol yang hendak menginvasi Damaskus. Misi berbahaya ini diselesaikan dengan sukses sehingga dia mendapatkan penghargaan.

Diantara karyanya :

Ibnu Khaldun memetakan masyarakat dengan interaksi sosial , politik, ekonomi dan geografi yang melingkupnya. Menurutnya, organisme dapat tumbuh dan matang, kerena sebab-akibat nyata yang mempengaruhinya. Pengaruh itu universal dan pasti.

Formasi masyarakat, pikiran yang dituangkan dalam magnum opus-nya, Muqaddimah misalnya, dikatakan sebagai hasrat manusia untuk berkumpul, bersaing, lalu memperebutkan kepemimpinan. Mereka diikat dengan solidaritas ashabiyah (ungkapan pra-Islam) yang diarahkan oleh para pimpinannya. Ia memperkirakan bahwa solidaritas itu berlangsung empat generasi. Model ini menempatkan Ibnu Khaldun sebagai penganut teori siklus sejarah. Masyarakat lahir, tumbuh, berkembang lalu mati untuk diganti dengan yang lain, demikian seterusnya.

Ia membedakan ilmu yang dipelajari “ pertama – ilmu filsafat dan intelektual (bisa dipelajari melalui akal dan intelejensi), kedua – ilmu yang ditransmisikan (disampaikan dimana hanya bisa disampaikan lewat mata rantainya yang berakhir pada pendiriannya, biasanya ilmu agama dan Wahyu Ilahi).

Ilmu filsafat dan intelektual terbagi ke dalam berbagai bidang : logika, ilmu alam atau fisika, ilmu metafisika, ilmu yang berkaitan dengan kuantitas (misalnya geometri, aritmatika, musik, astronomi). Sementara ilmu yang ditransmisikan seperti : Al Qur’an, hadits, syariah, teologi, sufisme, ilmu bahasa (linguistik seperti tata bahasa, leksikografi dan kesusasteraan).

Selain Muqaddimah, ia juga menulis kitab Al I’bar yang memuat sejarah Arab, Yahudi, Yunani, Romawi, Persia, sejarah Islam, sejarah Mesir dan Afrika Utara khususnya suku Barber dan suku yang berdekatan lainnya. Kitab ini memuat tiga bab, pertama memuat karya monumentalnya yakni Al-Muqaddimah. Secara singkat bab ini membicarakan asal muasal suatu masyarakat, kedaulatan, lahirnya kota-kota dan desa, dan lain sebagainya. Bagian kedua memuat empat jilid yang secara spesifik membicarakan sejarah bangsa Arab, serta dinasti-dinasti saat itu termasuk dinasti-dinasti Syria, Persia, Turki, Yahudi, Yunani, Romawi dan Prancis. Sementara bagian ketiga, terdiri dari dua jilid membahas bangsa Barber dan sejarahnya, dan berisi pula kitab Al Tashrif (otobiografinya-yang memuat perspektif analitis yang ditiru dari tradisi baru mengenai seni penulisan otobiografi). Bab yang juga mengenalkan riwayat hidup penulisnya ini sekaligus menutup bagian keseluruhan isi karya monumentalnya tersebut. Kontribusi Ibnu Khaldun dalam ilmu pengetahuan memang tak sedikit.. Setidaknya, berkat dialah dasar-dasar ilmu sosiologi politik dan filsafat dibangun. Tak heran jika warisannya itu banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

  • Ibnu Majid : Navigator Ulung Penemu Kompas Modern

Umat Islam selain memiliki Ibnu Batuta, penjelajah dunia, juga mempunyai pelaut ulung Ibnu Majid namanya. Tak diketahui tanggal lahir dan kematiannya, namun beberapa sumber sejarah menyebut ia hidup di abad 9 H atau 15 H. Keluarga Ibnu Majid berasal dari daerah Gunung Nejd, Yaman. Namun tradisi kebaharian sudah mulai dilakukkan sejak kakek dan ayahnya yang menjadi mualim (navigator) di kawasan Laut Merah. Ayah Ibnu Majid merintis penulisan buku tentang navigasi yang diberi judul al-Hajaziyya. Buku ini membahas tentang kondisi lautan sekitar kawasan Hejaz. Kelak, Ibnu Majid mengikuti jejak ayahnya dengan menulis buku-buku tentang kelautan dalam porsi yang lebih luas dan detil. Ia sering mengikuti pelayaran yang dilakukan ayahnya di kawasan Laut Merah. Ketika beranjak dewasa, pelayaran bersama kawan-kawannya dilakukan tidak hanya di kawasan Laut Merah, namun sudah merambah Samudera Hindia.

Sidi Ali Rais, seorang mualim Turki singgah di pelabuhan Basra, Irak dengan sengaja menyempatkan diri untuk mengumpulkan karya-karya Ibnu Majid seperti al-Fawaid fi Usul ilm al-Bahr wa al-Qawaid (Pedoman Dasar Ilmu Kelautan) dan Hawiyah al-Ikhtisar  fi Usul ilm al-Bihar (Rangkuman Ilmu Kelautan). Menurutnya, sulit untuk melanjutkan ekspedisi menjelajahi Samudera Hindia tanpa mengacu pada karya-karya Ibnu Majid tersebut.

Pada masa sebelum kehadiran karya Ibnu Majid, hanya sedikit para pelaut Arab yang berani mengarungi lebih jauh dari kawasan Laut Merah, Pantai Timur Afrika hingga Pantai Tenggara Afrika atau Sofala, wilayah dekat Madagaskar. Alasan mereka, ketiadaan pedoman navigasi atas wilayah tersebut dapat menyesatkan mereka, terutama arus laut yang memang ganas. Berdasarkan pengalaman langsung menjelajahi wilayah itu, ia menyebut di selatan Sofala ada selat yang menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Penjelajahan yang dilakukan Ibnu Majid selain ingin membuktikan kesalahan peta Ptolemeaus, juga keingintahuan dirinya tentang wilayah pantai Afrika secara keseluruhan. Saat itu, ia melakukan ekspedisi keliling benua Afrika mulai dari Laut Merah ke arah Selatan lalu ke Barat hingga Maroko dan Laut Tengah. Kepandaian Ibnu Majid dalam penghitungan pelayaran atau navigasi mencapai puncaknya ketika ia berhasil membuat kompas dengan 32 arah mata angin. Kompas yang jauh lebih detil dengan kompas buatan ahli masa itu, terutama orang Mesir dan Maroko akhirnya dikenal sebagai bentuk awal kompas modern.

Beberapa karya lain berupa tulisan-tulisan pendek, baik berupa prosa dan syair. Kitab al-Fawaid ditulis dalam bentuk prosa. Berisi gambaran 28 posisi bulan, posisi bintang-bintang yang dihubungkan dengan 38 titik yang ada dalam kompas, rute-rute perjalanan di Samudera Hindia, peta beberapa pelabuhan, peta hampir seluruh daratan yang dikenalinya seperti Arab, Madagaskar, Sumatera, Jawa, Taiwan, Srilangka, Bahrain dan Sokotra. Kitab ini juga memuat hasil penelitiannya tentang situasi pantai Asia dan Afrika, penjelasannya tentang musim-musim yang aman bagi pelayaran dan peta laut wilayah Laut Merah yang cukup detil termasuk daerah dangkal atau berkarang. Kitab Hawiyah al-Ikhtisar juga berbentuk prosa. Memuat peta-peta daratan yang berada di sekitar jalur pelayaran, gambaran tentang posisi bulan, rambu-rambu perjalanan dan musim-musim yang baik bagi pelayaran berdasarkan kalender Arab. Kitab ini memuat juga uraian tentang jarak bintang-bintang yang biasa dipakai dalam pelayaran. Juga, uraian tentang kalender yang menyebut bulan-bulan kehadiran bintang-bintang tertentu.

Semua karya Ibnu Majid tersebut didasarkan pada pengalaman dirinya sendiri selaku navigator dan dipadukan dengan teori-teori navigasi yang diperoleh melalui kitab-kitab para pendahulunya.

  • Mullah Sadra : Metafisikawan Terbesar dari Isfahan Safawi

Ketika umat Islam mencapai kelesuan dalam bidang pemikiran sekitar abad ke-16, muncul seorang tokoh besar, ia mampu membangkitkan filsafat bahkan tidak dengan wajah yang lama. Ia mengajukan sintesa baruberupa perpaduan antara filsafat, teologi dan tasawuf. Ia adalah Mullah Sadra.

Mullah Sadra bernama lengkap Sadruddin As-Syirazi. Dilahirkan pada tahun 1572 di Syiraz, ia dikenal sebagai metafisikawan terbesar, guru dialektika, ahli logika, pujangga dan futorolog. Ia pergi ke Isfahan, ibukota kerajaan Safawi untuk berguru pula pada Mir Findiriski yang banyak melakukan studi metafisika dan filsafat Hindu. Ia pernah mengasingkan diri selama sepuluh tahun disebuah desa dekat Qum, yang kemudian akhirnya kembali lagi ke Syiraz. Ia menghabiskan tiga puluh tahun terakhir hidupnya untuk menulis dan melatih murid-murid yang datang kepadanya dari berbagai wilayah yang jauh seperti Afrika Utara dan Tibet. Banyak penulis mengatakan, Mullah Sadra adalah filsuf dan sekaligus mistisi terbesar dari Safawi pada abad ke-17. Yang paling fundamental dan merupakan masterpiece-nya adalah kitab Al-Hikmah Al-Mutaaliyyah (Kebijaksanaan Transendental) atau sering juga disebut Al-Asfar Al-Arba’ah (Empat Pelajaran).

Karya Mullah Sadra tidak hanya berkutat pada persoalan-persoalan mistikal, pandangan kosmologinya atau estimologinya yang telah ditemukan pada teks-teks filsafat Islam. Karyanya juga juga menghubungkan dengan pandangan-pandangan berbagai ajaran pemikiran baik Islam maupun Pra-Islam. Karyanya yang lain misalnya yang banyak dipengaruhi teologi Syiah adalah tafsir Al Qur’an Asrar Al-Ayah. Kitab tafsir ini merupakan kontribusi paling penting yang dibuat untuk kajian-kajian Al Qur’an oleh seorang filsuf muslim dengan kemampuan metafisika yang kuat. Ia juga menghasilkan karya tulisan berupa kitab tentang hadits koleksi Syiah Ushul Kafi Kulayni.

Mullah Sadra terkenal sebagai tokoh yang banyak menciptakan karya-karya besar dalam filsafat sebagai karya orisinilnya. Ia menggelorakan sebuah pola pemikiran berupa pembenaman logika ke dalam lautan cahaya spiritual. Ia sebut sintesis ini Al Hikmah Al-Mutaaliyyah (Kebiksanaan Transendental). Sintesa ini sebagai dasar menuju kebenaran melalui tiga jalan besar : wahyu, akal dan keterbukaan secara mistik. Inti dari filsafat Hikmah Mutaaliyyah adalah tentang metafisika dan perjalanan jiwa menuju sumber aslinya. Di sinilah terlihat sekali bangunan sufistik dalam mewarnai filsafatnya. Tentang jiwa, Sadra berpendapat bahwa jika senantiasa bergerak menuju kedudukan akal aktif. Hubungan asli jiwa dengan bentuk dunia akal adalah hubungan antara sebutir benih dengan buah dan antara janin dengan hewan. Demikian pula jiwa itu secara actual adalah seorang makhluk hidup dan secara potensial adalah akal.

Pada masa hidupnya, Sadra telah melaksanakan ibadah haji ke Mekkah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki. Di Basrah saat perjalanan pulang dari Mekkah, ia meninggal dunia pada tahun 1641.

  • DR. BJ Habibie : Perancang bangun gerbong kereta api super cepat (dipakai di Jerman), penemu teori tentang keretakan logam pada pesawat terbang.

Kelelahan (fatique) pada bodi masih sulit dideteksi dengan keterbatasan perkakas. Belum ada pemindai dengan sensor laser yang didukung unit pengolah data komputer, untuk mengatasi persoalan rawan ini.Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat. Ketika lepas landas, sambungannya menerima tekanan udara (uplift) yang besar. Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung empasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack).Titik rambat, yang kadang mulai dari ukuran 0,005 milimeter itu terus merambat. Semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang. Kalau tidak terdeteksi, taruhannya mahal, karena sayap bisa sontak patah saat pesawat tinggal landas. Dunia penerbangan tentu amat peduli, apalagi saat itu pula mesin-mesin pesawat mulai berganti dari propeller ke jet. Potensi fatique makin besar.Habibie-lah yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik krack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atomnya. Oleh dunia penerbangan, teori Habibie ini lantas dinamakan krack progression. Dari sinilah Habibie mendapat julukan sebagai Mr. krack. Tentunya teori ini membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: